MASALAH KEJIWAAN - OCD
A. OBSESSIVE COMPULSIVE DISORDER (OCD)
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) atau
gangguan obsesif kompulsif adalah kelainan psikologis yang mempengaruhi
pikiran dan perilaku penderitanya. Begitu seseorang memiliki OCD,
pikiran dan rasa takut yang tidak diinginkan akan muncul secara terus menerus,
menyebabkan penderita terobsesi pada sesuatu dan melakukan tindakan tertentu
secara berulang-ulang sebagai respon terhadap ketakutannya. Misalnya,
mengecek berulang kali apakah mereka telah mengunci pintu atau belum. Penderita
OCD mungkin dapat mengabaikan pikiran itu, namun hal tersebut hanya akan
membuat mereka merasa cemas dan tertekan sehingga akhirnya mereka harus
melakukan sesuatu untuk melepas tekanan tersebut.
Gejala gangguan obsesif kompulsif,
penyebab gangguan obsesif kompulsif, dan obat gangguan obsesif kompulsif, akan
dijelaskan lebih lanjut di bawah ini.
B. PENYEBAB
Sejauh ini, para ilmuwan masih belum dapat
menemukan penyebab pasti dari gangguan obsesif kompulsif. Beberapa faktor
mungkin berpengaruh terhadap timbulnya penyakit ini, di antaranya:
- Perkembangan
psikologis
- Cedera kepala
- Infeksi
- Kelainan
fungsional dari beberapa bagian otak
Faktor yang meningkatkan rsiko Anda
mengidap gangguan obsesif kompulsif di antaranya:
- Riwayat keluarga:
Orangtua atau anggota keluarga yang mengidap gangguan obsesif kompulsif akan
meningkatkan risiko Anda untuk mengidap penyakit yang sama beberapa kejadian
yang membuat Anda merasa tertekan secara emosional dapat meningkatkan risiko
berkembangnya gangguan obsesif kompulsif tersebut.
C. DAMPAK
Dampak OCD pada rutinitas sehari-hari akan
menentukan proses pengobatan yang cocok untuk Anda. Proses pengobatan ini
dilakukan secara bertahap dan membutuhkan waktu sampai hasilnya benar-benar
efektif, terkadang durasinya hingga berbulan-bulan sebelum membuahkan hasil.
Ada pengidap yang harus menjalani pengobatan hingga seumur hidup. Karena itu,
penderita OCD serta keluarganya dianjurkan untuk menjalani proses pengobatan
dengan sabar.
D. PENANGGULANGAN
- Terapi Pajanan dan Pencegahan Respons (Exposure
and response prevention/ERP)
Terapi pajanan dan pencegahan respons (ERP) termasuk
salah satu dari terapi perilaku kognitif (CBT) yang terbukti efektif untuk
menangani OCD. Dalam terapi ini, sejumlah situasi yang menjadi pemicu kecemasan
penderita akan dideteksi. Penderita akan menjalani pajanan terhadap objek atau
obsesinya dan belajar mengatasi kecemasan secara bertahap dengan cara yang
sehat.
Tahap ini harus dilewati tanpa melakukan perilaku
kompulsif yang biasa muncul untuk menghilangkan kecemasan penderita. Proses ini
memang terdengar menakutkan, tapi terbukti sangat membantu.
Tingkat dan durasi kecemasan penderita biasanya
cenderung berkurang seiring jumlah latihan yang dijalaninya. Setelah berhasil
menaklukkannya, penderita dapat melanjutkan ke pemicu kecemasan yang lebih
berat.
- Penggunaan Antidepresan
Obat-obatan juga mungkin dibutuhkan apabila penderita
mengalami tingkat OCD menengah atau parah dan CBT kurang efektif. Jenis obat
yang diberikan umumnya adalah obat penghambat pelepasan selektif serotonin
(SSRI).
SSRI dapat meningkatkan jumlah serotonin dalam otak
dan manfaatnya akan terasa setelah 3 bulan pemakaian. Tetapi penderita OCD
umumnya setidaknya perlu mengonsumsinya selama 1 tahun.
Penderita perlu waspada karena obat ini dapat
meningkatkan kecemasannya sehingga dapat menimbulkan dorongan untuk bunuh diri
atau menyakiti diri sendiri. Segera periksakan penderita ke dokter atau rumah
sakit terdekat jika Anda mengonsumsi SSRI dan mengalami dorongan-dorongan
negatif tersebut. Beberapa efek samping lain dari obat ini meliputi diare, konstipasi,
gelisah, cemas, pusing, mual, muntah, insomnia, serta penurunan gariah seks.
Penderita juga sebaiknya tidak berhenti mengonsumsi
SSRI tanpa mendiskusikannya dengan dokter karena dapat menyebabkan kambuhnya
gejala-gejala OCD. Dokter akan mengurangi dosis secara bertahap sesuai dengan
respon dan kondisi Anda.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.alodokter.com/ocd/pengobatan
Komentar
Posting Komentar