IDENTIFIKASI CERITA FIKSI
Teman Sejati
Hari ini aku kesal pada
Debi. Ia berulangkali marah dan menotok notok kepalaku ke meja. Padahal yang
membuatnya marah bukan kesalahanku. Debi kesal karena semenjak setengah jam
yang lalu ia hanya bisa mengerjakan dua soal saja dari sepuluh soal Matematika
yang diberikan Pak Guru. Sementara teman teman yang lain sudah mengerjakan
sedikitnya enam soal.
“Makanya belajar ,Bi!”
kataku sebal. Debi melotot ke arahku dan menggusal gusalkan lagi kepalaku ke
meja.
“Kasar banget sih!”
seruku.
“Rasain!” hardik Debi.
“Debi!!” seru Pak Guru,
“Kenapa sejak tadi tidak bisa tenang?” Debi menunduk.
“Rasain!” balasku. Debi
menyurengkan matanya menatap kepalaku.
Ia mulai menulis beberapa rumus di kertas dan mencoba memecahkannya. Sayangnya, ia tetap saja tidak bisa.
Ia mulai menulis beberapa rumus di kertas dan mencoba memecahkannya. Sayangnya, ia tetap saja tidak bisa.
“Apa kata
mama,Rub…makanya jangan terlalu sering keluar main Bola!” kataku menasehati,
”Kamu membiarkanku
menunggumu di rumah menemanimu belajar, tapi kamu malahan enak enakan main
bola!!”
“Coba kalau kamu sadar
kalau hari ini ujian, kan kemarin seharusnya kamu belajar bersamaku!” keluhku
lagi.
“Padahal semalam aku kan
belajar!” jawab Debi.
“Iya, kamu belajar, tapi
cuma sebentar, karena kecapean bermain Bola!” sergahku.
“Sekarang giliran kamu
nggak bisa mengerjakan soal, kamu marah marah ke semua, termasuk padaku!”
“Harusnya kamu bisa
membagi waktu antara waktu bermain dan belajar..” kataku lagi menasehati Debi.
“Aduuh,gawat nih kalau
jelek ulangan, Mama Papa pasti marah” keluh Debi.
“Udah deh, pasrah
aja…memang salah kamu kok!Eeeh jangan coba coba nyontek pada Beni!!” teriakku
ketika Debi mencuri curi lihat pekerjaan Beni. Debi mencibir ketika Beni
menutupi kertas ulangannya.
“Bagus,Ben!” seruku
senang.
“Ini pelajaran buat kamu
Bi,…lebih baik kamu banyak banyak bermain denganku. Lebih banyak manfaatnya!”
kataku.
Bel isitahat pertama
berbunyi. Semua bergegas mengumpulkan kertas ulangan pada Pak guru. Debi
meninggalkanku sambil berjalan loyo ke meja Pak guru. Beberapa menit kemudian
ia kembali ke tempat duduk. Kelihatannya Debi menyesal tidak belajar dengan
benar semalam, padahal soal soal yang diberikan Pak guru semuanya mirip dengan
yang di buku. Cuma angkanya saja yang berbeda.
“Nggak bisa ya tadi,Bi?”
Tanya Beni kepadanya.
Debi menggeleng.
“Tenang Bi, kita akan
harus banyak belajar bareng..oke?” kataku .
Debi menatapku lalu
tersemyum sambil memasukan ku ke dalam kotak pensilnya. Aku berjanji akan setia
menemaninya belajar, karena aku adalah pensil kesayangan Debi.
IDENTIFIKASI
1. Tema :
Sosial
2. Sudut Pandang :
Orang ke pertama. Tidak sebagai pelaku.
3. Alur :
Maju. Karena menceritakan cerita dengan runtun, dari awal ulangan selesai.
4. Penokohan :
- Aku (Pensil) : Jail, Baik,
Peduli, Setia
- Debi : Malas, Kasar, Baik
- Beni : Baik, Peduli
- Guru
Matematika : Tegas
5. Penyelesaian : Happy Ending
6. Latar/Setting :
- Tempat : Di Kelas
-
Waktu : Pagi hari
-
Suasana : Menegangkan
7. Amanat
-
Harus bisa membagi waktu, mana waktu belajar dan bermain.
-
Gunakan waktu sebaik mungkin, karena sebuah penyesalan hanya akan datang di
akhir.
- Kita harus melakukan persiapan (belajar), sebelum menghadapi ulangan.
Komentar
Posting Komentar